Selasa, 19 Januari 2010

CONTOH KURIKULUM SEKOLAH MINGGU ANAK

KURIKULUM SEKOLAH MINGGU
Usia : 9-12 tahun
Waktu : 60 menit

BULAN JUNI 2007

Pokok Bahasan : PAHLAWAN-PAHLAWAN BAGI ALLAH
MINGGU I
Bahan Alkitab : Keluaran 13:17-22
Subpokok Bahasan : MUSA, Pahlawan yang berjiwa pemimpin
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui siapa saja pahlawan-pahlawan bagi Allah dan menngajar anak untuk menjadi pahlawan bagi Allah juga.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengetahui dan memahami perjalanan MUSA dalam memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir
2. mengetahui bahwa Allah yang menuntun umatNya tersebut dengan memakai MUSA sebagai pemimpin mereka
1. mengetahui kepribadian pada diri MUSA sehingga Allah memakainya menjadi pahlawan yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.
Aktivitas :
1. Pengajar menceritakan bagaimana perjalanan Musa ketika memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.
2. Pengajar memberitahukan bagaimana tangan Allah di dalam menuntun umatNya.
3. Pengajar memberitahukan kepribadian pada diri MUSA sehingga ia dipakai Allah untuk memimpin bangsa Israel.
4. Anak-anak diminta untuk mewarnai gambar tentang perjalanan umat Israel yang telah disediakan oleh pengajar.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Cerita-cerita Alkitab Bergambar.
3. Kertas untuk diwarnai .
4. Pensil berwarna atau crayon.

MINGGU II
Bahan Alkitab : 1 Samuel 16:1-13
Subpokok Bahasan : DAUD, Pahlawan kecil bagi Allah
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui siapa saja pahlawan-pahlawan bagi Allah dan menngajar anak untuk menjadi pahlawan bagi Allah juga.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengetahui bagaimana Allah memilih DAUD sebagai raja
1. mengetahui bagaimana Allah memakai DAUD sebagai raja meskipun ia masih muda
Aktivitas :
1. Pengajar menceritakan cerita dari bahan Alkitab hari ini.
2. Pengajar mengadakan tanya-jawab dengan anak-anak Sekolah Minggu dari bahan hari ini. Hal ini untuk bertujuan untuk melatih daya ingat anak.
3. Melakukan drama singkat seperti cerita dari bahan Alkitab hari ini.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab.
2. 365 Cerita Alkitab.
3. Peralatan-peralatan untuk membuat drama singkat.

MINGGU III
Bahan Alkitab : 1 Raja-raja 3:16-28
Subpokok Bahasan : SALOMO, Pahlawan yang bijaksana
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui siapa saja pahlawan-pahlawan bagi Allah dan menngajar anak untuk menjadi pahlawan bagi Allah juga.

Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
2. mengetahui dan memahami cerita dari bahan Alkitab pada hari ini
3. bijaksana dalam mengambil keputusan dengan meminta hikmat dari Tuhan seperti yang dilakukan oleh SALOMO
4. berserah kepada Tuhan dalam segala perkara yang mereka hadapi
Aktivitas :
1. Pengajar terlebih dahulu menceritakan bahan Alkitab pada hari ini.
2. Kemudian pengajar memperagakan cerita dari bahan Alkitab hari ini dimana SALOMO mengambil keputusan yang bijaksana ketika menghadapi dua orang ibu yang memperebutkan seorang bayi.
3. Beberapa orang anak diminta untuk memperagakannya kembali di depan kelas.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab.
2. 365 Cerita Alkitab.
3. Peralatan yang dibutuhkan sebagai alat peraga, mis: pedang dan boneka sebagai bayinya.

MINGGU IV
Bahan Alkitab : Daniel 6:18-28
Subpokok Bahasan : DANIEL, Pahlawan yang setia kepada Tuhan
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui siapa saja pahlawan-pahlawan bagi Allah dan menngajar anak untuk menjadi pahlawan bagi Allah juga.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
5. mengetahui dan memahami cerita dari bahan Alkitab pada hari ini
6. mengetahui kesetiaan DANIEL ketika ia dimasukkan ke dalam gua singa
7. meniru sifat DANIEL yang selalu setia kepada Tuhan meskipun ia berdukacita
8. menyediakan hati menjadi pahlawan yang setia kepada Tuhan
Aktivitas :
1. Pengajar menceritakan bahan Alkitab pada hari ini.
2. Pengajar mengadakan tanya-jawab dengan anak-anak.
3. Anak-anak diminta untuk mewarnai gambar yang telah disediakan oleh pengajar.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Kertas untuk diwarnai
3. Pensil warna atau crayon

BULAN JULI 2007

Pokok Bahasan : DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN INJIL
MINGGU I
Bahan Alkitab : Yohanes 17:20-24
Subpokok Bahasan : Orang percaya hidup dalam persekutuan
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa gereja adalah persekutuan orang percaya
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menjelaskan alasan Yesus mendoakan murid-muridNya
2. menjelaskan arti dari persekutuan orang percaya
3. memberikan contoh-contoh persekutuan
Aktivitas :
1. Anak membaca bahan Alkitab
2. Pengajar memberikan penjelasan mengenai bahan Alkitab yang dibahas
3. Ajak anak membuat doa syafaat dengan kata-katanya sendiri, kemudian dikumpulkan.
4. Pengajar memilih salah satu untuk dibacakan di akhir pertemuan
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Gambar-gambar
3. Kertas dan pena



MINGGU II
Bahan Alkitab : Markus 16:15-20
Subpokok Bahasan : Injil harus diberitakan kepada seluruh bangsa
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa gereja adalah persekutuan orang percaya.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
5. Mengulangi isi perintah Yesus sebelum naik ke sorga
6. Memberitahukan tanda-tanda yang akan menyertai para rasul dalam memberitakan Injil
7. Memberikan contoh-contoh tindakan memberitakan Injil
Aktivitas :
4. Setelah pengajar menjelaskan bacaan bahan Alkitab hari itu, anak diajak membuat Teka Teki Silang Alkitab
5. Membuat beberapa kelompok kecil
6. Pengajar membuat jawaban untuk memudahkan anak-anak mencari pertanyaan. Hal ini berhubungan dengan bacaan hari itu
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Gambar-gambar
3. Kertas, pena, dan penggaris

MINGGU III
Bahan Alkitab : Filipi 1:12-14
Subpokok Bahasan : Injil diberitakan kepada para bangsawan
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa gereja adalah persekutuan orang percaya
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. Menceritakan bahwa karena pemberitaan Injil Paulus dipenjara
2. Memberitahukan bahwa penderitaan Paulus menyebabkan kemajuan Injil sampai ke dalam istana
3. Menjelaskan bahwa dalam memberitakan Injil tidak boleh takut
Aktivitas :
1. Pengajar menceritakan perjalanan pelayanan Paulus dalam memberitakan Injil sehingga ia dipenjarakan
2. Pengajar memberitahukan bahwa sekalipun dalam penjara pekerjaan memberitakan Injil terus dilakukan oleh Paulus
3. Pengajar menantang anak-anak untuk berani menjadi pemberita Injil dimanapun mereka berada
4. Setiap anak menuliskan pada sebuah karton tekadnya menjadi saksi Kristus
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Karton dan spidol warna

MINGGU IV
Bahan Alkitab : Kis. 16:19-34
Subpokok Bahasan : Injil diberitakan kepada kepala penjara
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa gereja adalah persekutuan orang percaya
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. Menceritakan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus dan Silas
2. Menceritakan akibat dari pemberitaan Injil
3. Menjelaskan Injil dapat dilakukan melalui kata dan perbuatan
Aktivitas :
1. Pengajar bercerita tentang bacaan Alkitab hari itu
2. Pengajar meminta agar anak menceritakan kembali apa yang telah disampaikan
3. Pengajar menekankan bahwa dalam pemberitaan Injil, Allah memakai banyak peristiwa untuk membuat orang menjadi percaya
Sumber dan Alat :
1. Alkitab



BULAN AGUSTUS 2007

Pokok Bahasan : KESEPULUH PERINTAH TUHAN
MINGGU I
Bahan Alkitab : Keluaran 20:3-7
Subpokok Bahasan : Kesepuluh perintah Tuhan (Bagian I: 1-3)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui kesepuluh perintah Tuhan tersebut dan mentaati serta melakukannya dalam kehidupan.
Tujuan Pembelajaran Khusus: Agar anak dapat
5. mengetahui perintah-perintah Tuhan yang pertama sampai ketiga
6. memahami perintah-perintah Tuhan dari yang pertama sampai ketiga
7. mentaati dan melakukan perintah-perintah Tuhan tersebut di dalam kehidupan
Aktivitas :
2. Pengajar menerangkan isi dari perintah-perintah Tuhan yang pertama sampai ketiga.
3. Anak-anak diminta untuk mengikuti pengajar mengucapkan isi dari ketiga perintah tersebut sambil mereka mengingatnya.
4. Anak-anak diminta untuk menghafalkan isi dari ketiga perintah tersebut.
5. Anak-anak diminta untuk menuliskan ketiga perintah tersebut pada sebuah karton yang dibawa oleh anak-anak.
Sumber dan Alat :
4. Alkitab
5. Karton
6. Spidol atau tinta berwarna lainnya

MINGGU II
Bahan Alkitab : Keluaran 20:8-13
Subpokok Bahasan : Kesepuluh perintah Tuhan (Bagian II: 4-6)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui kesepuluh perintah Tuhan tersebut dan mentaati serta melakukannya dalam kehidupan.

Tujuan Pembelajaran Khusus: Agar anak dapat
4. mengetahui perintah-perintah Tuhan yang keempat sampai keenam.
5. memahami perintah-perintah Tuhan dari yang keempat sampai keenam.
6. mentaati dan melakukan perintah-perintah Tuhan tersebut di dalam kehidupan
Aktivitas :
1. Pengajar menerangkan isi dari perintah-perintah Tuhan yang keempat sampai keenam.
2. Anak-anak diminta untuk mengikuti pengajar mengucapkan isi dari ketiga perintah tersebut sambil mereka mengingatnya.
3. Anak-anak diminta untuk menghafalkan isi dari ketiga perintah tersebut.
4. Anak-anak diminta untuk menuliskan ketiga perintah tersebut pada karton yang dibawa minggu lalu.
Sumber dan Alat :
4. Alkitab
5. Karton
6. Spidol atau tinta berwarna lainnya

MINGGU III
Bahan Alkitab : Keluaran 20: 14-17
Subpokok Bahasan : Kesepuluh perintah Tuhan (Bagian III: 7-10)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui kesepuluh perintah Tuhan tersebut dan mentaati serta melakukannya dalam kehidupan.
Tujuan Pembelajaran Khusus: Agar anak dapat
4. mengetahui perintah-perintah Tuhan yang ketujuh sampai kesepuluh.
5. memahami perintah-perintah Tuhan dari yang ketujuh sampai kesepuluh.
6. mentaati dan melakukan perintah-perintah Tuhan tersebut di dalam kehidupan
Aktivitas :
1. Pengajar menerangkan isi dari perintah-perintah Tuhan yang ketujuh sampai kesepuluh.
2. Anak-anak diminta untuk mengikuti pengajar mengucapkan isi dari keempat perintah tersebut sambil mereka mengingatnya.
3. Anak-anak diminta untuk menghafalkan isi dari keempat perintah tersebut.
4. Anak-anak diminta untuk menuliskan keempat perintah tersebut pada karton minggu lalu.
Sumber dan Alat :
4. Alkitab
5. Karton
6. Spidol atau tinta berwarna lainnya

MINGGU IV
Bahan Alkitab : Keluaran 20:3-17
Subpokok Bahasan : Mengulang kembali kesepuluh perintah Tuhan
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui kesepuluh perintah Tuhan tersebut dan mentaati serta melakukannya dalam kehidupan.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
4. mengingat kembali kesepuluh perintah Tuhan yang telah dipelajari pada minggu-minggu yang lalu
5. mengetahui lima perintah yang menyatakan hubungan manusia dengan Allah
6. mengetahui lima perintah Tuhan yang menyatakan hubungan manusia dengan sesamanya
Aktivitas :
1. Pengajar mengulang kembali kesepuluh perintah Tuhan secara singkat.
2. Tiga orang anak yang sudah bisa menghafal kesepuluh perintah Tuhan tersebut diminta mengulanginya di depan kelas.
3. Anak-anak diminta untuk menghias karton yang sudah ditulis dengan kesepuluh perintah Tuhan tersebut.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Karton yang sebelumnya telah ditulis dengan kesepuluh perintah tersebut.
3. Spidol atau tinta berwarna
4. Peralatan lainnya yang dibutuhkan untuk menghias karton.

BULAN SEPTEMBER 2007

Pokok Bahasan : SIKAP MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN
MINGGU I
Bahan Alkitab : Ulangan 8:11-18
Subpokok Bahasan : Manusia harus bersyukur kepada Tuhan
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia untuk mengolah alam dan sumber daya.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menjelaskan sikap Allah terhadap bangsa Israel
2. menjelaskan bahwa Allah memenuhi kebutuhan manusia agar mereka dapat memuliakan Allah
3. menghitung berkat dan menyatakan syukurnya
Aktivitas :
1. Pengajar menjelaskan bahan bacaan Alkitab pada hari ini.
2. Siapkan alat peraga berupa gambar-gambar tentang perjalanan bangsa Israel di padang gurun.
3. Memberi kesempatan kepada 2 atau 3 orang anak untuk menceritakan kembali bacaan Alkitab pada hari ini dengan mempergunakan alat peraga yang disediakan.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Cerita-cerita Alkitab Bergambar
3. Gambar-gambar yang menjadi alat peraga

MINGGU II
Bahan Alkitab : 1 Raja-raja 21:1-16
Subpokok Bahasan : Manusia tidak boleh serakah
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia untuk mengolah alam dan sumber daya.

Tujuan Pembelajaran Khusus :Agar anak dapat
1. menjelaskan bahwa Raja Ahab tergiur dan menginginkan kebun anggur milik Nabot orang Yizreel
2. menjelakan bahwa cara Izebel, istri Raja Ahab mendapat kebun anggur milik Nabot adalah dengan cara memfitnah Nabot
3. mengemukakan bahwa merampas milik orang lain dengan cara memfitnah adalah sikap yang tidak berkenan di hadapan Allah
Aktivitas :
1. Bermain peran singkat: Seorang anak laki-laki yang berperan sebagai Raja Ahab dan seorang lagi yang berperan sebagai Nabot. Dan seorang anak perempuan yang berperan sebagai Izebel serta beberapa orang untuk tua-tua dan pemuka-pemuka dm masyarakat Yizreel.
2. Pengajar kembali mengingatkan kepada anak mengenai perbuatan atau sikap yang salah dan bertanya kepada anak tentang sikap yang benar berhubungan dengan bacaan.
Sumber :
1. Alkitab
2. Cerita-cerita Akitab Bergambar

MINGGU III
Bahan Alkitab : Yeremia 24:4-9
Subpokok Bahasan : Manusia mengelola lingkungan hidup untuk kesejahteraan bersama.
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia untuk mengolah alam dan sumber daya.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menjelaskan kembali isi perintah Allah kepada bangsa Israel
2. menjelaskan apa yang dilarang Tuhan
3. menyebutkan apa yag Tuhan maksud dengan memberikan lingkungan hidup (untuk dipelihara dan dapat dinikmati bersama)
Aktivitas :
1. Meminta anak untuk menceritakan tentang bencana yang terjadi selama ini yang mereka ketahui.
2. mendiskusikan tentang bacaan Alkitab hari ini tentang apa isi pesan dan larangan Tuhan terhadap bangsa Israel.
Sumber :
1. Alkitab

MINGGU IV
Bahan Alkitab : Ulangan 8:11-18; 1 Raja-raja 21:1-16; Yeremia 29:4-9
Subpokok Bahasan : Evaluasi
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat memahami bahwa Tuhan yang memberi kepercayaan kepada manusia untuk mengolah alam dan sumber daya
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengulang ringkas pelajaran yang telah diberikan mulai dari awal bulan September
2. menyebutkan hal-hal penting yang dapat direnungkan dan dilakukan
3. menunjukkan sikap lebih akrab terhadap lingkungan
Aktivitas :
1. Anak diminta untuk mengisi soal-soal yang diberikan dari bahan sebulan ini
Sumber dan Alat :
1. Alkitab

BULAN OKTOBER 2007

Pokok Bahasan : KESEPULUH TULAH DI MESIR
MINGGU I
Bahan Alkitab : Keluaran 7:14-8:15
Subpokok Bahasan : Kesepuluh tulah di Mesir (bagian I: tulah 1 dan 2)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui dan memahami kesepuluh tulah yang dilimpahkan Tuhan kepada bangsa Mesir karena ketidaktaatan mereka.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengetahui apa tulah pertama dan kedua yang dilimpahkan Tuhan kepada Mesir
2. memahami kedua tulah tersebut dengan pengertian mereka sendiri
3. belajar dari kesalahan bangsa Mesir dan taat kepada perintah Tuhan
Aktivitas :
1. Pengajar menjelaskan bahan Alkitab hari ini dengan memakai gambar sebagai alat peraga.
2. Pengajar meminta 2 atau 3 orang anak menyebut kembali apa tulah pertama dan kedua.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Gambar-gambar

MINGGU II
Bahan Alkitab : Keluaran 8:16-9:7
Subpokok Bahasan : Kesepuluh tulah di Mesir (bagian II: tulah 3,4 dan 5)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui dan memahami kesepuluh tulah yang dilimpahkan Tuhan kepada bangsa Mesir karena ketidaktaatan mereka.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengetahui apa tulah ketiga, keempat dan kelima yang dilimpahkan Tuhan kepada Mesir
2. memahami ketiga tulah tersebut dengan pengertian mereka sendiri
3. belajar dari kesalahan bangsa Mesir dan taat kepada perintah Tuhan
Aktivitas :
1. Pengajar menjelaskan bahan Alkitab hari ini dengan memakai gambar sebagai alat peraga.
2. Pengajar meminta 2 atau 3 orang anak menyebut kembali apa tulah ketiga, keempat dan kelima.
3. Anak diminta untuk mewarnai gambar yang telah disediakan pengajar yang sesuai dengan bahan bacaan Alkitab hari ini.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Gambar-gambar
3. Bahan yang akan diwarnai
4. Pensil warna atau crayon

MINGGU III
Bahan Alkitab : Keluaran 9:8-35
Subpokok Bahasan : Kesepuluh tulah di Mesir (bagian III: tulah 6 dan 7)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui dan memahami kesepuluh tulah yang dilimpahkan Tuhan kepada bangsa Mesir karena ketidaktaatan mereka.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengetahui apa tulah keenam dan ketujuh yang dilimpahkan Tuhan kepada Mesir
2. memahami kedua tulah tersebut dengan pengertian mereka sendiri
3. belajar dari kesalahan bangsa Mesir dan taat kepada perintah Tuhan
Aktivitas :
1. Pengajar menjelaskan bahan Alkitab hari ini dengan memakai gambar sebagai alat peraga.
2. Pengajar meminta 2 atau 3 orang anak menyebut kembali apa tulah keenam dan ketujuh.

Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Gambar-gambar

MINGGU IV
Bahan Alkitab : Keluaran 10:1-11:10
Subpokok Bahasan : Kesepuluh tulah di Mesir (bagian IV: tulah 8,9 dan 10)
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak mengetahui dan memahami kesepuluh tulah yang dilimpahkan Tuhan kepada bangsa Mesir karena ketidaktaatan mereka.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. mengetahui apa tulah kedelapan, sembilan dan kesepuluh yang dilimpahkan Tuhan kepada Mesir
2. memahami tiga tulah tersebut dengan pengertian mereka sendiri
3. belajar dari kesalahan bangsa Mesir dan taat kepada perintah Tuhan
Aktivitas :
1. Pengajar menjelaskan bahan Alkitab hari ini dengan memakai gambar sebagai alat peraga.
2. Pengajar meminta 2 atau 3 orang anak menyebut kembali apa tulah kedelapan, sembilan dan kesepuluh.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Gambar-gambar

BULAN NOVEMBER 2007

Pokok Bahasan : BANGSA DAN NEGARA
MINGGU I
Bahan Alkitab : 1 Raja-raja 1:28-31; 1:39-53
Subpokok Bahasan : Tuhan menetapkan Salomo sebagai Raja di Israel
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui bahwa Tuhan memberi kuasa untuk mengatur hidup ini.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menemukan alasan mengapa Salomo yang diurapi menjdi Raja
2. memberi komentar tentang sikap Salomo ketikaberhadapan dengan Adonia
3. menentukan sikap atau membuat pilihan tepat ketika menghadapi berbagai tanggung jawab sebagai seorang pemimpin
Aktivitas :
1. Pengajar membagi anak menjadi dua kelompok, dimana kelompok yang satu mendiskusikan hal-hal yang menyenangkan bila menjadi pemimpin dan kelompok kedua mendiskusikan hal-hal yang tidak menyenangkan bila menjadi pemimpin.
2. Semua jawaban ditulis pada selembar kertas dan dikumpulkan kepada pengajar.
3. Pengajar memberikan tanggapan akhir dan kesimpulan
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Kertas dan pena

MINGGU II
Bahan Alkitab : 1 Raja-raja 3:4-15
Subpokok Bahasan : Salomo memerintah sesuai dengan kehendak Allah
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui bahwa Tuhan memberi kuasa untuk mengatur hidup ini.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menjelaskan mengapa Salomo meminta hikmat
2. mendaftarkan gunanya hikmat dalam kehidupan sehari-hari
3. memberi contoh sikap yang menandakan bahwa ia memiliki hikmat
Aktivitas :
1. Pengajar membuat beberapa pertanyaan atau kasus untuk dinilai oleh anak, apakah itu Bijaksana(B) atau Tidak Bijaksana (TB) yang diberi dengan tanda cek.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Kertas soal dan pena

MINGGU III
Bahan Alkitab : 2 Tawarikh 36:11-20
Subpokok Bahasan : Tuhan menghukum Raja Zedekia
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui bahwa Tuhan memberi kuasa untuk mengatur hidup ini.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menjelaskan mengapa Tuhan menghukum Raja Zedekia
2. menjelaskan akibat dari hukuman yang telah Tuhan berikan
3. menyatakan sikapnya sehari-hari agar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan
Aktivitas :
1. Pengajar memberikan penjelasaan tentang bacaan Alkitab hari ini.
2. Siapkan kertas karton berbentuk hati, bagikan kepada anak. Minta anak menulis sikap/sifat yang baik dan yang tidak baik.
3. Pengajar memberikan penjelasan akhir dan kesimpulan.
Sumber dan Alat :
1. Alkitab
2. Kertas karton
3. Spidol

MINGGU IV
Bahan Alkitab : 1Raja-raja 1:28-31; 1Raja-raja 3:4-5; 2Tawarikh 36:11-20
Subpokok Bahasan : Evaluasi
Tujuan Pembelajaran Umum : Agar anak dapat mengetahui bahwa Tuhan memberi kuasa untuk mengatur hidup ini.
Tujuan Pembelajaran Khusus : Agar anak dapat
1. menyebutkan hal-hal dari cerita-cerita tersebut, yang baginya merupakan pelajaran penting
2. berdiskusi dan menentukan sikap dalam kehidupannya sebagai seorang anak Kristen
Aktivitas :
1. Pengajar membuat evaluasi dari materi-materi sebulan ini
Sumber dan Alat :
1. Alkitab

Sabtu, 16 Januari 2010

KECERDASAN SOSIAL

Definisi dari Berbagai Sumber
Kecerdasan sosial erat kaitannya dengan kata “sosialisasi.” Suean Robinson Ambron (1981) mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing seseorang ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. (Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hal.123).
Penyesuian sosial pada setiap tahap usia ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah sejauh mana seseorang dapat memainkan peran sosial secara tepat sesuai dengan apa yang diharapkan daripadanya. Kedua, seberapa banyak kepuasan yang diperoleh seseorang. (Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, hal. 337).
Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University: 1994, menjelaskan bahwa kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. (Ubaydillah, diakses dari www.e-psikologi.com).
Pengembangan kecerdasan sosial mengandalkan keunggulan pribadi, minimal mencakup empat bidang: (1) membaca mitos dan diversi sosial di masyarakat; (2) memahami pentingnya pembinaan diri seumur hidup; (3) mengenal aksi sosial, tuntutan situasi sosial, dan merancang reformasi sosial; (4) mengembangkan belas kasih dan memerhatikan sesama. (William Chang, diakses dari www.socialligent_wordpress.com).
Menurut Amstrong,1994, kecerdasan berinteraksi (kecerdasan sosial) ini bersifat sangat unik karena dapat bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang sedang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu sejauh memiliki kecerdasan emosi serta tidak selalu terhimpit oleh masalah finansial berat. Kesemuanya membangun kecerdasan sosial yang berdampak cerdas bekerja sama, melihat peluang, berperan, bertanggung jawab, memimpin, berjiwa sosial, toleransi, dapat menerima perbedaan maupun mencari solusi konflik. Komponen penting membangun kecerdasan sosial (social intelegence) adalah komunikasi dan pendidikan. Kecerdasan sosial adalah kematangan kesadaran pikiran dan budi pekerti untuk berperan secara sosial dalam kelompok atau masyarakat. Dewasa ini kecerdasan sosial bersama jati diri yang kuat dan kendali diri yang stabil sangat menunjang perkembangan dan peningkatan karier individu di masyarakat, lembaga atau perusahaan. Lebih banyak orang sukses karena terampil bekerja sama, empati dan mampu mengendalikan diri. (dr. Rinaldi Nizar, sp. Ank, diakses dari www.infonarkoba.com).
Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983) menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gadner.Kecerdasan sosial ini bukan seperti kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. (Sumardi, diakses dari http://www.kompas.com)
• Definisi Teoritis
Kecerdasan sosial adalah kemampuan yang mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak untuk menjalankan peran manusia sebagai makhluk sosial di dalam menjalin hubungan dengan lingkungan atau kelompok masyarakat.

• Komponen, Indikator dan Pernyataan
a. SI (Social Intelligence) internal
 Keinginan untuk bersosial dari dalam diri
1. Ketika dalam lingkungan saya ada pendatang baru, saya langsung mengunjunginya (F)
2. Keinginan untuk mengenal satu sama lain berasal dari dalam diri sendiri, bukan karena paksaan (F)
3. Ada rasa acuh tak acuh dari dalam diri ketika melihat seseorang di lingkungan kita terkena musibah (U)

 Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain
1. Saya berusaha untuk memiliki hubungan yang baik dengan yang lain (F)
2. Saya menjalin hubungan yang baik dengan orang lain supaya ketika saya membutuhkan bantuan, mereka juga datang untuk menolong saya (U)

 Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain
1. Sesibuk apapun saya, ketika ada tetangga yang meminta tolong saya segera datang menolongnya (F)
2. Saya akan menunda acara yang telah lama saya direncanakan, oleh karena ada teman yang kecelakaan dan membutuhkan bantuan saya (F)
3. Saya mengalah kepada orang yang lebih tua untuk duduk di dalam kendaraan umum (F)
4. Saya mau mengambil sebagian tabungan saya untuk menolong teman yang memerlukan dukungan dana pada saat itu (F)

b. SI (Social Intelligence) eksternal
 Adanya pengaruh untuk bersosialisasi
1. Saya senang mengikuti organisasi atau kegiatan sosial yang membantu orang-orang yang terkena bencana alam (F)
2. Saya berusaha menjauhkan diri supaya tidak ikut dalam kepanitiaan sosialisasi dengan alasan pekerjaan yang cukup sibuk (U)

 Menyelesaikan permasalahan dalam berinteraksi Sosial.
1. Ketika ada masalah dalam kelompok masyarakat atau kerja, saya lebih senang diselesaikan dengan bermusyawarah (F)
2. Tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya (U)
3. Lebih baik menghindar ketika ada permasalahan dengan orang lain dan pura-pura tidak tahu apa-apa (U)

Bersosial karena adanya faktor yang lain
1. Saya bersosialisasi baik dengan orang lain supaya mendapat sanjungan atau pujian dari mereka (U)
2. Ketika memberi atau menyumbangkan sesuatu untuk kegiatan amal, saya mau orang lain juga mengetahuinya (U)


DAFTAR PUSTAKA
Chang, William. ”Mengembangkan Kecerdasan Sosial.” http://www.socialligent_wordpress.com. Diakses pada tanggal 21 Mei 2008.

Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga, 1980.
Nizar, Rinaldi. “Kecerdasan Sosial.” http://www.infonarkoba.com. Diakses pada tanggal 7 Juni 2008.

Sumardi. ”Apakah Kompetensi Sosial.” http:www.kompas.com. Diakses pada tanggal 7 Juni 2008.

Ubaydilah. ”Selayang Pandang IQ, EQ dan SQ.” http://www.e-psikologi.com. Diakses pada 7 Juni 2008.

Yusuf L N, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004.

Selasa, 12 Januari 2010

SOAL-SOAL CERDAS TANGKAS ALKITAB SD BUDYA WACANA 1 DAN 2 YOGYAKARTA KELAS 4 DAN 5

Kelompok 1
Pertanyaan Wajib
1. Tuhan menciptakan alam semesta selama 6 enam hari. Pada hari ke berapa ikan di lautan dan burung di udara diciptakan Tuhan? (Hari kelima)
2. Pada dasarnya setiap nama memiliki arti, apakah arti nama Adam? (Debu tanah)
3. Nuh memiliki tiga orang anak. Sebuatkanlah nama mereka! (Sem, Ham, dan Yafet)
4. Di dalam Perjanjian Lama ada seorang wanita yang cukup terkenal bernama Naomi. Dari manakah dia berasal? (Betlehem Yehuda atau Betlehem)
5. Selain keduabelas rasul, terdapat seorang rasul yang juga menuliskan banyak kitab dalam Perjanjian Baru, siapakah namanya? (rasul Paulus)
Pertanyaan Bagian ke 2 (dapat dilemparkan)
1. Siapakah yang membaptis Tuhan Yesus? (Yohanes Pembaptis)
2. Tuhan Yesus memiliki murid yang memiliki bermacam-macam pekerjaan. Apakah pekerjaan Petrus sebelum mengikut Yesus? (Nelayan/ pencari ikan)
3. Anak tertua Adam, Kain, membunuh adiknya sendiri. Siapakah nama adik Kain tersebut? (Habel)
4. Daud adalah raja Israel yang kedua. Siapakah raja Israel yang pertama? (Saul)
5. Pada masa Nuh terjadi banjir mahadahsyat. Berapa lama hujan turun ke bumi? (40 hari 40 malam)
Kelompok 2
Pertanyaan Wajib
1. Tuhan menciptakan alam semesta selama enam hari. Pada hari ke berapa matahari, bulan, dan bintang-bintang diciptakan Tuhan? (Hari keempat)
2. Biasanya setiap nama memiliki arti tersendiri. Apakah arti dari nama Hawa?
(Ibu semua yang hidup)
3. Yakub memiliki dua belas orang anak. Sebutkanlah tiga orang dari mereka!
(Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Yusuf, dan Benyamin)
4. Naomi memiliki dua orang menantu, salah satunya bernama Rut. Berasal dari manakah Rut? (Moab)
5. Kitab terakhir dalam Alkitab adalah kitab Wahyu. Siapakah yang menuliskan kitab ini? (rasul Yohanes)
Pertanyaan Bagian ke 2 (dapat dilemparkan)
1. Di manakah Tuhan Yesus dibaptiskan? (Sungai Yordan)
2. Tuhan Yesus ditangkap di sebuah taman. Sebutkanlah nama taman itu? (Getsemani)
3. Musa memiliki seorang kakak laki-laki. Siapakah nama kakak lelaki Musa? (Harun)
4. Perjanjian Lama memiliki 39 kitab. Sebutkanlah kitab terakhir dalam Perjanjian Lama! (Kitab Maleakhi)
5. Pada masa Nuh terjadi air bah mahadahsyat. Berapa lamakah air bah itu menutupi seluruh permukaan bumi? (150 hari)
Kelompok 3
Pertanyaan Wajib
1. Tuhan menciptakan alam semesta selama enam hari. Pada hari ke berapa Tuhan menciptakan terang? (Hari Pertama)
2. Biasanya setiap nama memiliki arti yang khusus, apakah arti dari nama Abraham?
(Bapak orang beriman)
3. Daniel memiliki tiga orang sahabat. Sebutkanlah nama-nama mereka! (Sadrakh, Mesakh dan Abednego)
4. Dalam perjalanan dari Israel ke Mesir, Musa menerima sepuluh perintah Tuhan. Di manakah Musa menerimanya? (Gunung Sinai)
5. Dalam Perjanjian Lama terdapat kitab yang berisi hikmat, bernama kitab Amsal. Siapakah yang menulis kitab Amsal? (raja Salomo)
Pertanyaan Bagian ke 2 (dapat dilemparkan)
1. Berapa hari Tuhan Yesus tinggal di padang gurun? (40 hari)
2. Salah seorang rasul yang paling terkenal adalah rasul Paulus. Siapakah nama Paulus sebelumnya? (Saulus)
3. Musa juga memiliki seorang kakak perempuan, siapakah namanya? (Miryam)
4. Tuhan Yesus pernah membangkitkan seseorang yang sudah mati dan dikuburkan selama beberapa hari. Siapakah namanya? (Lazarus)
5. Apakah tanda yang diberikan Allah untuk menunjukkan bahwa Ia tidak akan pernah mengirimkan air bah yang mahadahsyat ke bumi kembali? (Pelangi)
Kelompok 4
Pertanyaan Wajib
1. Tuhan menciptakan alam semesta selama enam hari. Pada hari keberapakah Tuhan menciptakan cakrawala? (Hari kedua)
2. Pada dasarnya setiap nama memiliki arti tersendiri. Apakah arti nama Musa?
(yang diangkat dari air)
3. Pada saat Ayub sangat menderita karena penyakit yang dialaminya, ada tiga orang sahabat yang menjenguk dan berusaha menghiburnya. Siapakah mereka?
(Elifas, Bildad dan Zofar)
4. Musa meninggal sebelum memasuki tanah perjanjian. Siapakah nama pengganti Musa? (Yosua)
5. Pada Perjanjian Lama terdapat 5 kitab taurat. Siapakah yang menuliskan kelima kita Taurat tersebut? (Musa)
Pertanyaan Bagian ke 2 (dapat dilemparkan)
1. Berapa kali iblis mencobai Tuhan Yesus di padang gurun? (3 kali)
2. Yudas iskariot menjual Tuhan Yesus kepada para imam. Berapakan imbalan yang diterima Yudas setelah menjual Yesus? (30 keping uang perak)
3. Yakub memiliki seorang kakak yang juga saudara kembarnya. Sebutkanlah namanya?
(Esau)
4. Lima puluh hari setelah Tuhan Yesus naik ke Sorga terjadi pencurahan Roh Kudus di Yerusalem. Disebut hari apakah itu? (Hari Pentakosta)
5. Siapakah nama saudara Abraham yang tinggal di Sodom dan Gomora? (Lot)



Kelompok 5
Pertanyaan Wajib
1. Tuhan menciptakan alam semesta selama enam hari. Pada hari ke berapa Tuhan menciptakan daratan, lautan dan tumbuhan? (Hari ketiga
2. Pada dasarnya setiap nama memiliki arti yang khusus. Apakah arti nama Samuel
(Aku telah memintanya dari Tuhan)
3. Tuhan Yesus memiliki dua belas orang murid. Sebutkanlah tiga orang murid Tuhan Yesus! (Simon orang Zelot, Yakobus anak Alfeus, Matius, Simon Petrus, Yakobus, Bartolomeus, Yohanes, Tomas, Filipus, Yudas Iskariot, Andreas dan Tadeus)
4. Nabi Elia memiliki seorang murid yang kelak menggantikannya sebagai nabi. Siapakah namanya? (Nabi Elisa)
5. Didalam Alkitab tercatat ada dua orang nabi yang diangkat ke Sorga. Siapakah mereka? (Henokh dan Elia)
Pertanyaan Bagian ke 2 (dapat dilemparkan)
1. Mujizat apakah yang dibuat Tuhan Yesus saat perkawinan di Kana? (air menjadi anggur)
2. Siapakah nama raksasa Filistin yang dikalahkan oleh Daud hanya dengan menggunakan ketapel? (Goliath)
3. Yakub memiliki dua belas anak laki-laki. Siapakah nama anak Yakub yang paling bungsu? (Benyamin)
4. Seseorang ingin bertemu Tuhan Yesus, namun karena pendek ia harus memanjat pohon untuk melihat Yesus. Siapakah namanya? (Zakheus)



Pertanyaan Rebutan
1. Alkitab adalah kumpulan dari 66 kitab. Ada berapa kitabkah dalam Perjanjian Lama? (39 kitab)
2. Kitab-kitab Taurat dituliskan oleh Musa. Berapakah jumlah kitab Taurat? (5)
3. Sebutkan kelima kitab Taurat Musa tersebut! (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan)
4. Yusuf putra Yakub adalah seorang tokoh Alkitab yang luar biasa. Terdapat dalam kitab apakah cerita tentang Yusuf? (Kejadian)
5. Beberapa waktu setelah kelahiran Yesus, Yusuf dan Maria membawanya ke Mesir. Mengapa mereka membawa bayi Yesus ke Mesir? (karena Herodes hendak membunuh Yesus)
6. Sebutkanlah isi hukum yang terutama! (Mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri)
7. Manusia adalah makhluk berdosa. Bagaimana caranya supaya kita dibebaskan dari dosa? (mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai penebus dosa)
8. Tuhan Yesus selama di dunia membuat banyak sekali mujjizat. Sebutkanlah tiga mujizat yang pernah dilakukan Tuhan Yesus! (Air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang kusta, membebaskan orang yang kerasukan setan, mencelikkan mata yang buta, dan sebagainya)
9. Salah satu isi hukum Taurat adalah ” Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu.” Terdapat pada hukum keberapakah perintah tersebut? (Hukum ke lima)
10. Bangsa Israel pernah menjadi budak di Mesir. Berapa lamakah mereka berada di Mesir? (430 tahun)

Senin, 11 Januari 2010

MARAH

Efesus 4: 26-27
4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

Pada situasi tertentu, kemarahan seringkali tidak dapat dihindarkan, itulah sifat kemanusiaan kita. berkenaan dengan marah ada dua sikap yang ekstrim yang sama-sama keliru; tidak bisa marah pada satu pihak, dan sangat mudah marah pada pihak lain. Keliru, karena tidak hanya merugikan sesama namun juga merugikan bahkan bisa mencelakakan diri sendiri. Marah sebenarnya tidaklah selalu salah – kadang-kadang malah menyehatkan – asalkan kemarahan itu terjadi dalam situasi dan oleh sebab yang tepat, dan disampaikan dengan cara yang tepat pula.
Paulus menasehatkan kita untuk tidak menyimpan amarah di dalam hati, sebab akan merusak hubungan dengan orang lain, namun juga akan merusak hati kita sendiri. Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarah kita (ayat 26b). Tuhan Yesus pun pernah marah, saat Ia melihat bait Allah dibuat sebagai pasar hewan, tanpa segan-segan Ia membalikkan meja-meja penjualan dan melepaskan hewan-hewan yang akan menjadi korban bakaran. Ia benar-benar marah. Seperti Yesus, kita pun boleh marah, namun jangalah kita menjadi seorang pemarah. Kemarahan yang benar dan sehat haruslah tetap berdasarkan kasih. Sebab kasih yang benar adalah berani menegur saat orang yang kita kasihi melakukan tindakan yang salah.
Jadi, marahlah kalau itu memang diperlukan. Hanya setelah itu sampaikan alasan kemarahanmu dan lupakanlah, jangan sampai iblis berkesempatan menanamkan benih kebencian dalam hati kita.

Marah diperlukan dalam situasi dan sebab tertentu, tapi
kita tidak boleh menjadi seorang pemarah

Sabtu, 09 Januari 2010

DISPENSATIONALISM

Dispensationalism is a Protestant evangelical tradition and theology[1] based on a biblical hermeneutic that sees a series of chronologically successive "dispensations" or periods in history in which God relates to human beings in different ways under different Biblical covenants. As a system dispensationalism is rooted in the writings of John Nelson Darby and the Brethren Movement.[2]:10 The theology of dispensationalism consists of a distinctive eschatological "end times" perspective, as all dispensationalists hold to premillennialism and most hold to a pretribulation rapture. Dispensationalists believe that the nation of Israel is distinct from the Church,[3]:322 and that God will fulfill His promises to national Israel. These promises include the land promises, which in the future result in a millennial kingdom where Christ, upon His return, will rule the world from Jerusalem[4] for a thousand years. In other areas of theology, dispensationalists hold to a wide range of beliefs within the evangelical and fundamentalist spectrum.[2]:13
One of the most important underlying theological concepts for dispensationalists is progressive revelation. While some nondispensationalists start with progressive revelation in the New Testament and refer this revelation back into the Old Testament, dispensationalists begin with progressive revelation in the Old Testament and read forward in a historical sense. Therefore there is an emphasis on a gradually developed unity as seen in the entirety of Scripture. Biblical covenants are intricately tied to the dispensations. When these Biblical covenants are compared and contrasted, the result is a historical ordering of different dispensations. Also with regard to the different Biblical covenant promises, dispensationalists place emphasis on to whom these promises were written, the original recipients. This has led to certain fundamental dispensational beliefs, such as a distinction between Israel and the church.
Another important theological concept is the emphasis on what is referred to as the historical-grammatical method of interpretation. This is often popularly referred to as the "literal" interpretation of Scripture. Just as Israel literally experienced the curses spoken of in the Old Testament, dispensationalists believe that they will one day, literally, receive the blessings spoken of in the Old Testament. Just as it is with progressive revelation, the historical-grammatical method is not a concept or practice that is exclusive just to dispensationalists. However, a dispensational distinctive is created when the historical-grammatical method of interpretation is closely coupled with an emphasis on progressive revelation along with the historical development of the covenants in Scripture.
All dispensationalists hold to a clear distinction between Israel and the church. Israel is an ethnic nation[5] consisting of Jews, beginning with Abraham and continuing in existence to the present. The church consists of all saved individuals in this present dispensation - i.e., from the day of Pentecost in Acts 2 until the time of the Rapture. The distinction between Israel and the church is not mutually exclusive, as there is a recognized overlap between the two.[2]:295 The overlap consists of Jewish Christians (such as Peter and Paul) who are ethnically Jewish and also have faith in Jesus Christ. Dispensationalists also believe that toward the end of the Tribulation, Israel as a nation will turn and embrace Jesus as their Messiah right before his second coming.
edited from www.wikipedia.com

Rabu, 06 Januari 2010

An Evangelical View of Science

At the recent American Academy of Religion meeting, I was asked to present a scholarly overview of Evangelical theology and science. I assumed the task would be easy. I was wrong. I have participated actively in the science and religion dialogue for years. I have been an Evangelical since my youth. Given my past, I assumed I could churn out a presentation in a few hours. I scoured my library of science and theology books. I consulted sources on the Internet. In the process, I discovered that very little scholarship exists specifically on Evangelical theology and science.
My recent research and past experiences, however, point to obstacles that discourage scholars from identifying themselves as participants in an Evangelical theology and science dialogue.

First, many scholars admit they cannot easily define “Evangelical theology.” So much diversity exists. Opinions vary. In recent decades, in fact, those defining what counts as Evangelical theology typically identify the communities out of which theologians work rather than particular doctrinal statements thought to be distinctly Evangelical.

Second, the complex nature of the science and theology dialogue discourages scholars from narrowing the confines of either discipline. Scholars find it easier to talk about general theological doctrines than specific theological traditions.

Third, focusing upon the Bible as the Evangelical’s primary source for truth discourages some from taking science as a truth-seeking counterpart. In theory, Evangelical theologians embrace the truth of science. In practice, they rarely take science seriously in their constructive work.

Finally, my own conversations with Evangelical theologians suggest that many fear coming into conflict with the wider Evangelical populace. Theologians who take unpopular stances on evolution, stem-cell research, big bang theory, or nonhuman altruism are likely to suffer the wrath of an angry Evangelical mainstream. Many Evangelical theologians do not want that risk.

In the end, I decided the best way to fulfill my assignment was to be both descriptive and prescriptive. That is, I sought to describe what I found in my research and to recommend to Evangelicals what they might do as they engage science.

The list below identifies ten areas of debate or concern for Evangelicals, which are coupled with recommendations for how to approach these issues.
Evangelicals…
believe that what they observe provides generally accurate information about the way things are. Evangelical theologians are, to use a label scholars like John Polkinghorne endorse, “critical realists.” believe that an underlying harmony exists between science and theology. “All truth is God’s truth,” is a typical Evangelical phrase. When Evangelicals encounter disharmony, they are more likely to rethink or reject science than theology. Strive to be faithful to the Bible, especially the biblical view that God is Creator. This endeavor prompts Evangelicals to return often to questions of how literally they should interpret particular segments of the Bible.
Strive to be faithful to what science tells us about God. Generally, this striving takes the form of confirming what Evangelicals already believe about God. But occasionally, Evangelical theologians consciously or unconsciously change their theological views because of science.
Affirm that ultimate explanations must include a theological component. An ongoing question, however, is the extent to which Evangelical scientists should take theology into the lab or offer theological explanations to their scientific work.
Seek a theological explanation of origins. The most popular labels for these theories of origins include “Creation Science,” “Progressive Creation,” and “Theistic Evolution.” Given recent trends, I predict Theistic Evolution will gain Evangelical supporters in the coming decades until it becomes the dominant Evangelical view.
Affirm general and/or specific purpose in creation. When some scientists claim the world has no purpose, many Evangelicals find Intelligent Design theory an attractive alternative. But Intelligent Design theory seems to be losing ground in Evangelical circles. The vast majority of scientists do not accept it, and Evangelicals believe, as I noted earlier, that science and theology are ultimately in harmony.
Affirm that God is presently active in creation. God’s activity may or may not involve intervention. Evangelicals who insist that God is omnipresent, in fact, think the language of “intervention” is unnecessary. But Evangelicals typically believe that miracles, which theologians define in various ways, occur because of God’s activity.Seek to affirm both the reality of sin/evil and the reality of love/altruism. Evangelicals have widely divergent views on original sin and the possibility of overcoming sin in this life. But they see in science evidence for many theological doctrines of human nature. Pursue truth with humility. Perhaps this last characteristic is more prescriptive than descriptive. I think Evangelicals – whom almost universally admit they cannot know all truth and their cognitive capacities can be impaired – ought to be the first to admit they do not have everything figured out.

I’m optimistic about the future of the Evangelical theology and science dialogue. But I’m not na├»ve to think that the dialogue will flow with ease into every Evangelical nook and cranny. Plenty of warfare has occurred and will occur.

Despite this warfare, I firmly believe progress in the Evangelical theology and science dialogue is possible. I intend to do my part in encouraging and shaping such progress.

Rencana TUHAN

Ayat : Yeremia 29:11-13
29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
29:12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;
Firman Tuhan ini turun kepada nabi Yeremia di Yerusalem bagi orang-orang Israel yang dibawa raja Nebukadnezar ke Babilonia. Masa ini sering disebut sebagai masa pembuangan, yang oleh Tuhan ditetapkan berlangsung selama 70 tahun. Selama pembuangan Allah berjanji tetap mendengarkan dan memberkati mereka (ayat 12-13). Meskipun mengalami penderitaan dan hinaan yang hebat mereka tidak akan ditinggalkan sendirian oleh Tuhan, apabila mereka mau berseru dan mencari Dia.
Bagaimana dengan kita? saat menghadapi kesusahan yang dalam, kesulitan hidup, penyakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan, kecelakaan, ataupun saat doa kita tak kunjung dijawab oleh Tuhan, seringkali dengan mudah kita menyalahkan Tuhan sambil bertanya : “kenapa ini terjadi dalam hidupku? Apa salah dan dosaku?” kita harus menyadari bahwa itu bukanlah sikap yang produktif. Sama sekali tidak membangun, namun melemahkan iman dan semangat. Pertanyaan yang produktif adalah: “apakah rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Apakah kehendak Tuhan bagiku?”
Ya, sebab tidak mungkin Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi atas hidup kita bagi tujuan yang buruk dan jahat. Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang indah bagi kita, hanya tunggulah waktu Tuhan dalam menggenapi rencananya. Rancangan Tuhan bukanlah rancangan yang membawa kecelakaan, namun yang menhasilkan kebaikan, kebahagiaan dan damai sejahtera.
Apapun persoalan dan masalah yang anda hadapi hari ini, jangan sampai melemahkan semangat dan iman anda kepada Allah. Jangan pula mencari-cari kesalahan orang lain sebagai ‘kambing hitam’ atas peristiwa yang sedang kita alami. Tunggu dan lihatlah bagaimana Tuhan menggenapi rencanaNya yang ajaib atas hidup saudara dan saya.

Masalahnya bukan pada Allah yang terlalu lambat menggenapi rencanaNya, namun pada kita yang selalu tidak menyadari kebahagiaan dibalik suatu peristiwa

JATI DIRI

Nats: Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya
menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-
Nya (Yohanes 1:12)


Gajah betina itu tak kenal identitasnya. Sejak kecil ia dipelihara
dan hidup di antara para tupai. Maka ia menganggap dirinya tergolong
bangsa tupai. Ia bertingkah polah seperti tupai. Ia belum kenal jati
dirinya, sampai ia berjumpa Manny, si gajah jantan. Dengan berbagai
cara, tahap demi tahap, Manny berusaha menunjukkan keserupaan di
antara mereka untuk menyadarkannya bahwa ia adalah gajah, bukan
tupai. Begitulah cerita ringkas film animasi Ice Age 2. Pesannya
jelas: kita perlu sadar diri siapa kita dan belajar berperilaku
sesuai jati diri itu.

Kalau burung mengira dirinya ayam, ia tidak akan terbang tetapi
hanya melompat-lompat. Kalau seorang kristiani tidak sadar dirinya
anak Allah, jelas yang dilakukannya tidak sesuai standar anak-anak
Allah. Sejak menerima Kristus, kita dilahirkan kembali; diciptakan
baru; diangkat menjadi "anak-anak Allah"; dan "benih ilahi" ada di
dalam kita (ayat 9). Lewat pergaulan tahap demi tahap dengan Dia,
selayaknya perilaku kita mengikuti standar keserupaan dengan Yesus.
Yohanes tak henti-hentinya menulis tentang kebenaran ini. Mengapa?

Sebab target gempuran Iblis adalah membuat orang-orang kristiani
"lupa" jati dirinya. Bagaimana bisa? Lewat tantangan dan cobaan
hidup yang beragam, kita bisa dibuat memiliki gambar diri yang
buruk: anak bodoh; pembawa celaka; si nasib sial; orang gagal;
pecundang; wanita yang tak layak dicintai; pria miskin; si tua yang
tak berguna; si pembuat dosa yang tak terampuni. Lalu tanpa sadar,
orang akan berperilaku seperti gambar diri itu. Stop! Jangan
tergiring ke arah itu! Kita adalah anak-anak Allah. Berjuang dan
berperilakulah di atas landasan jati diri yang benar! _PAD

PERUBAHAN HIDUP DIMULAI DARI PERUBAHAN GAMBAR DIRI
KE ARAH YANG SESUAI DENGAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN
Diambil dari Renungan Harian 6 Januari 2010

Menerima = Kehilangan

Adalah membahagiakan kalau yang kita harapkan terjadi. Adalah penuh sukacita kalau yang kita inginkan terwujud. Tetapi ingatlah, saat kita mendapatkan sesuatu biasanya ada sesuatu yang lain hilang. Setiap kita mendapatkan sesuatu selalu ada yang dikorbankan. Lihat saja, saat kita bekerja keras untuk mendapatkan uang biasanya waktu untuk keluarga, waktu istirahat, dan lainnya akan hilang. Saat kita mendapatkan pekerjaan baru, kita harus kehilangan rekan-rekan kerja, situasi yang lama, kenyamanan yang sudah ada dan lain-lain. Apabila kita menyadari hal ini, maka kita akan sungguh-sungguh menyadari betapa setiap detik dari hidup kita tidak ada yang sia-sia. Setiap detik dari hidup kita memiliki arti yang teramat mendalam!

Selasa, 05 Januari 2010

Tertawa itu Sehat

Amsal 17: 22
17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang
Tertawa mampu meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Suatu penelitian menyebutkan bahwa suara tawa dapat membuat tubuh kita lebih kebal dari penyakit hingga 40%. Tertawa membuat tubuh kita menjadi lebih aktif menghadang infeksi dan kuman. Tertawa juga mempermudah pernafasan. Udara yang kotor akan lebih mudah keluar saat kita tertawa untuk digantikan dengan udara segar yang dibutuhkan tubuh.
Salomo menjelaskan bahwa hati yang gembira adalah obat dan namun keputusasaan akan mengeringkan ‘tulang’ jasmani maupun rohani dari seseorang. Ia mau melihat kebahagiaan terpancar dari wajah orang di sekitarnya. Semua orang membutuhkan tawa sebagai salah satu cara berelaksasi dari kepenatan sehari-hari, sehingga kita terhindar dari stress yang mendalam.
Tertawa itu menyehatkan. Bukan hanya bagi tubuh jasmani kita, namun juga bagi hati. Hati yang gembira akan meningkatkan semangat. Semangat bekerja, mengabdi, berkarya bagi Tuhan dan sesama. Kemampuan untuk tertawa, terlebih menertawakan diri sendiri, termasuk salah satu tanda kedewasaan. Di satu sisi, tertawa memperlihatkan tertawa memperlihatkan kesadaran dan penerimaan; bahwa kita ini adalah makhluk berdosa yang adakalanya bertindah ceroboh; di sisi lain tertawa menyiratkan pengakuan bahwa hanya dengan pertolongan Allah kita bisa mengatasi kebodohan tersebut. Sudahkan anda tertawa hari ini?

Tawa sukacita datangnya dari hati yang gembira

Be a Winner

(Bilangan 13: 1-33)
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! (1:30)

Be a winner atau menjadi seorang pemenang memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dilewati. Apabila kita terpaku pada tantangan itu, akan sulit bagi kita menjadi seorang pemenang. Pemenang bukanlah masalah kelahiran tetapi masalah perjuangan, usaha keras untuk mencapai tujuan tertentu.
Bangsa Israel sudah membuktikannya, saat itu mereka ada di padang gurun Paran, suatu daerah yang gersang dan tandus. Sebab itu, Musa mengirimkan pengintai-pengintai untuk melihat tanah yang telah dijanjikan Allah bagi mereka. Duabelas orang pengintai dari kedua belas suku Israel dipilih untuk melaksanakan tugas itu. Mereka melihat bahwa tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah tanah yang teramat subur, makmur atau gemah ripah loh jinawi, tetapi ada satu hal yang mengganggu mereka, tanah itu didiami oleh orang-orang perkasa keturunan raksasa yang bernama Enak. Hal ini membuat sepuluh dari mereka gemetar dan takut, sehingga menghasut bangsa itu supaya tidak maju merebut tanah perjanjian. Mereka lupa bahwa Tuhan Allah sudah menjanjikan tanah itu bagi mereka dan Ia tidak akan pernah lupa akan janjinya.
Dua orang dari pengintai itu, yaitu Yosua dan Kaleb memiliki pemikiran yang lain. Ia percaya bahwa Allah akan menyertai mereka dan mereka harus maju dan menduduki negeri itu. Ia berteriak diantara sekian banyak bangsa itu untuk mengingatkan kembali janji Tuhan Allah bagi mereka. Ia tidak terpancing oleh suara mayoritas yang berusaha menggagalkan rencana Allah. Ia adalah seorang pemenang.
Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berpikir sebagai pemenang dan bertindak sebagai pemenang. Seorang pemenang adalah orang yang berani berpikir maju dan menghadapi tantangan tanpa rasa takut dan gemetar dengan pertolongan Tuhan Allah. Arahkan langkah kita menuju ke ‘tanah perjanjian’ dengan tetap berpegang teguh pada pertolongan Roh Kudus. Be a winner. WEC
(Menjadi pemenang merupakan pilihan hidup yang diwujudkan dalam pola berpikir dan tindakan sebagai seorang pemenang)

Pengampunan

Matius 18: 21-35
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (18:21-22)
Tanggal 17 Juli 2009 Hotel J. W. Marriot dan Ritz-Charlton di Mega Kuningan, Jakarta dihantam bom bunuh diri. Paling tidak ada sembilan orang tewas dalam peristiwa itu. Salah satunya adalah Evert Mokodompis. Ada satu hal yang menyentuh hati saya, saat penguburan, ayah korban diwawancarai sebuah stasiun tv, dengan pertanyaan hukuman apa yang pantas bagi orang-orang dibalik peristiwa ini. Jawabannya sangat indah, “saya serahkan kepada hukum yang berlaku, tetapi kami sudah mengampuni mereka dan memberkati mereka. Sebab kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.” Satu kalimat yang berasal dari firman Tuhan dalam Injil Matius 5: 39 dan 44.
Mengampuni adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dikatakan, namun perlu pengorbanan saat kita berkomitmen untuk melaksanakannya. Sebab, mengampuni berarti menghapuskan kesalahan yang dibuat orang lain, meskipun itu sangat menyakitkan. Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus, berapa kali aku harus mengampuni? Tujuh kali? Mengapa Petrus berkata tujuh kali, sebab dalam tradisi Yahudi saat itu mengampuni orang biasanya hanya sampai tiga kali. Jawaban Yesus sangat mengagetkan, sebab ia tidak hanya harus mengampuni tujuh kail, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali untuk satu orang saja. Ini mendobrak kebiasaan dan kemauan kita. Namun, disinilah esensi dari keKristenan, yaitu hendaklah kita saling mengasihi, dan mengasihi tidak ada dampaknya tanpa kita mengampuni.
Umat percaya seringkali gamang dan sulit untuk mengampuni, sebab melihat kesalahan yang sudah diperbuat orang terhadap kita. Mulai saat ini, pandanglah teladan Yesus Kristus yang rela masuk dalam sejarah dunia, menjadi manusia, bahkan mati dalam kesengsaraan demi kasihNya bagi kita, manusia berdosa. Dia rela mengampuni kita, demikian pula kita juga harus rela mengampuni kesalahan sesama kita. WEC
(Pengampunan adalah keniscayaan bagi umat yang mengasihi Tuhan)

Kasih Sejati

1 Petrus 1:6-7a
1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu...
Surat 1 Petrus ditujukan kepada orang-orang pendatang di Galatia, Pontus, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, juga bagi kita di masa kini. Rasul Petrus mengingatkan kepada jemaat supaya tetap berpegang teguh pada pengharapan dan cinta kasih kepada Allah dan sesama, meskipun pada saat itu mereka mengalami banyak sekali penganiayaan dan penderitaan. Rasul Petrus malah meminta mereka untuk bergembira dan bersukacita meskipun sedang menderita, sebagai bukti cinta dan iman kepada Tuhan Allah.
Di Jepang ada cerita, setiap hari seekor anjing mengantarkan tuannya ke stasiun kereta api untuk berangkat mengajar di sebuah Universitas, hal itu berlangsung belasan tahun. Suatu kali, sang majikan terkena serangan jantung dan meninggal di tempatnya mengajar, ia dibawa ke rumah tidak dengan kereta api. Si anjing yang terbiasa menunggui tuannya pulang di stasiun tersebut tidak pernah tahu apa yang terjadi. Sesuatu yang hebat terjadi, konon anjing itu selalu menunggui tuannya di stasiun tersebut selama bertahun-tahun hingga ia mati. Inilah kesetiaan seekor anjing kepada tuannya, dalam susah dan senang ia selalu menanti kedatangan orang yang dicintainya.
Cinta akan sangat mudah dikatakan pada saat semuanya berjalan indah dan menyenangkan, namun apakah cinta itu tahan uji saat menghadapi berbagai pencobaan dan tantangan? Cinta kita kepada Tuhan dan sesama hendaknya cinta yang sejati, tulus dan tahan uji. Akan sangat luar biasa apabila saat kesusahan mendera, penderitaan menghimpit, kesesakan menekan seakan tiada berhenti, namun kita masih tetap bersukacita dalam cinta yang murni kepada Tuhan, keluarga, rekan sekerja, anak didik dan sesama manusia.
Maka, saat pencobaan datang menghadang hidup kita, jangan berkecil hati, itulah saatnya membuktikan kemurnian iman dan cinta kita kepada Tuhan dan sesama.
Cinta sejati pasti akan tahan uji

Selamat Datang Sahabat

Syalom sahabat, selamat datang di blog ini. Nama saya Wahyu Eko Cahyono, S. Th saat ini saya mengampu pelajaran Agama Kristen dan Character Building di Sekolah Nasional Budya Wacana. Kegiatan saya selain mengajar adalah menempuh pendidikan pascasarjana bidang Manajemen Pendidikan pada salah satu Universitas di Yogyakarta dan melayani di beberapa Gereja dan Pelayanan di Yogyakarta.
Saya bahagia bisa berbagi dengan semua sahabat. Semoga blog ini bisa menjadi berkat kita sekalian.
Salam
Wahyu Eko Cahyono