At the recent American Academy of Religion meeting, I was asked to present a scholarly overview of Evangelical theology and science. I assumed the task would be easy. I was wrong. I have participated actively in the science and religion dialogue for years. I have been an Evangelical since my youth. Given my past, I assumed I could churn out a presentation in a few hours. I scoured my library of science and theology books. I consulted sources on the Internet. In the process, I discovered that very little scholarship exists specifically on Evangelical theology and science.
My recent research and past experiences, however, point to obstacles that discourage scholars from identifying themselves as participants in an Evangelical theology and science dialogue.
First, many scholars admit they cannot easily define “Evangelical theology.” So much diversity exists. Opinions vary. In recent decades, in fact, those defining what counts as Evangelical theology typically identify the communities out of which theologians work rather than particular doctrinal statements thought to be distinctly Evangelical.
Second, the complex nature of the science and theology dialogue discourages scholars from narrowing the confines of either discipline. Scholars find it easier to talk about general theological doctrines than specific theological traditions.
Third, focusing upon the Bible as the Evangelical’s primary source for truth discourages some from taking science as a truth-seeking counterpart. In theory, Evangelical theologians embrace the truth of science. In practice, they rarely take science seriously in their constructive work.
Finally, my own conversations with Evangelical theologians suggest that many fear coming into conflict with the wider Evangelical populace. Theologians who take unpopular stances on evolution, stem-cell research, big bang theory, or nonhuman altruism are likely to suffer the wrath of an angry Evangelical mainstream. Many Evangelical theologians do not want that risk.
In the end, I decided the best way to fulfill my assignment was to be both descriptive and prescriptive. That is, I sought to describe what I found in my research and to recommend to Evangelicals what they might do as they engage science.
The list below identifies ten areas of debate or concern for Evangelicals, which are coupled with recommendations for how to approach these issues.
Evangelicals…
believe that what they observe provides generally accurate information about the way things are. Evangelical theologians are, to use a label scholars like John Polkinghorne endorse, “critical realists.” believe that an underlying harmony exists between science and theology. “All truth is God’s truth,” is a typical Evangelical phrase. When Evangelicals encounter disharmony, they are more likely to rethink or reject science than theology. Strive to be faithful to the Bible, especially the biblical view that God is Creator. This endeavor prompts Evangelicals to return often to questions of how literally they should interpret particular segments of the Bible.
Strive to be faithful to what science tells us about God. Generally, this striving takes the form of confirming what Evangelicals already believe about God. But occasionally, Evangelical theologians consciously or unconsciously change their theological views because of science.
Affirm that ultimate explanations must include a theological component. An ongoing question, however, is the extent to which Evangelical scientists should take theology into the lab or offer theological explanations to their scientific work.
Seek a theological explanation of origins. The most popular labels for these theories of origins include “Creation Science,” “Progressive Creation,” and “Theistic Evolution.” Given recent trends, I predict Theistic Evolution will gain Evangelical supporters in the coming decades until it becomes the dominant Evangelical view.
Affirm general and/or specific purpose in creation. When some scientists claim the world has no purpose, many Evangelicals find Intelligent Design theory an attractive alternative. But Intelligent Design theory seems to be losing ground in Evangelical circles. The vast majority of scientists do not accept it, and Evangelicals believe, as I noted earlier, that science and theology are ultimately in harmony.
Affirm that God is presently active in creation. God’s activity may or may not involve intervention. Evangelicals who insist that God is omnipresent, in fact, think the language of “intervention” is unnecessary. But Evangelicals typically believe that miracles, which theologians define in various ways, occur because of God’s activity.Seek to affirm both the reality of sin/evil and the reality of love/altruism. Evangelicals have widely divergent views on original sin and the possibility of overcoming sin in this life. But they see in science evidence for many theological doctrines of human nature. Pursue truth with humility. Perhaps this last characteristic is more prescriptive than descriptive. I think Evangelicals – whom almost universally admit they cannot know all truth and their cognitive capacities can be impaired – ought to be the first to admit they do not have everything figured out.
I’m optimistic about the future of the Evangelical theology and science dialogue. But I’m not naïve to think that the dialogue will flow with ease into every Evangelical nook and cranny. Plenty of warfare has occurred and will occur.
Despite this warfare, I firmly believe progress in the Evangelical theology and science dialogue is possible. I intend to do my part in encouraging and shaping such progress.
Rabu, 06 Januari 2010
Rencana TUHAN
Ayat : Yeremia 29:11-13
29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
29:12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;
Firman Tuhan ini turun kepada nabi Yeremia di Yerusalem bagi orang-orang Israel yang dibawa raja Nebukadnezar ke Babilonia. Masa ini sering disebut sebagai masa pembuangan, yang oleh Tuhan ditetapkan berlangsung selama 70 tahun. Selama pembuangan Allah berjanji tetap mendengarkan dan memberkati mereka (ayat 12-13). Meskipun mengalami penderitaan dan hinaan yang hebat mereka tidak akan ditinggalkan sendirian oleh Tuhan, apabila mereka mau berseru dan mencari Dia.
Bagaimana dengan kita? saat menghadapi kesusahan yang dalam, kesulitan hidup, penyakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan, kecelakaan, ataupun saat doa kita tak kunjung dijawab oleh Tuhan, seringkali dengan mudah kita menyalahkan Tuhan sambil bertanya : “kenapa ini terjadi dalam hidupku? Apa salah dan dosaku?” kita harus menyadari bahwa itu bukanlah sikap yang produktif. Sama sekali tidak membangun, namun melemahkan iman dan semangat. Pertanyaan yang produktif adalah: “apakah rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Apakah kehendak Tuhan bagiku?”
Ya, sebab tidak mungkin Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi atas hidup kita bagi tujuan yang buruk dan jahat. Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang indah bagi kita, hanya tunggulah waktu Tuhan dalam menggenapi rencananya. Rancangan Tuhan bukanlah rancangan yang membawa kecelakaan, namun yang menhasilkan kebaikan, kebahagiaan dan damai sejahtera.
Apapun persoalan dan masalah yang anda hadapi hari ini, jangan sampai melemahkan semangat dan iman anda kepada Allah. Jangan pula mencari-cari kesalahan orang lain sebagai ‘kambing hitam’ atas peristiwa yang sedang kita alami. Tunggu dan lihatlah bagaimana Tuhan menggenapi rencanaNya yang ajaib atas hidup saudara dan saya.
Masalahnya bukan pada Allah yang terlalu lambat menggenapi rencanaNya, namun pada kita yang selalu tidak menyadari kebahagiaan dibalik suatu peristiwa
29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
29:12 Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;
Firman Tuhan ini turun kepada nabi Yeremia di Yerusalem bagi orang-orang Israel yang dibawa raja Nebukadnezar ke Babilonia. Masa ini sering disebut sebagai masa pembuangan, yang oleh Tuhan ditetapkan berlangsung selama 70 tahun. Selama pembuangan Allah berjanji tetap mendengarkan dan memberkati mereka (ayat 12-13). Meskipun mengalami penderitaan dan hinaan yang hebat mereka tidak akan ditinggalkan sendirian oleh Tuhan, apabila mereka mau berseru dan mencari Dia.
Bagaimana dengan kita? saat menghadapi kesusahan yang dalam, kesulitan hidup, penyakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan, kecelakaan, ataupun saat doa kita tak kunjung dijawab oleh Tuhan, seringkali dengan mudah kita menyalahkan Tuhan sambil bertanya : “kenapa ini terjadi dalam hidupku? Apa salah dan dosaku?” kita harus menyadari bahwa itu bukanlah sikap yang produktif. Sama sekali tidak membangun, namun melemahkan iman dan semangat. Pertanyaan yang produktif adalah: “apakah rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Apakah kehendak Tuhan bagiku?”
Ya, sebab tidak mungkin Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi atas hidup kita bagi tujuan yang buruk dan jahat. Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang indah bagi kita, hanya tunggulah waktu Tuhan dalam menggenapi rencananya. Rancangan Tuhan bukanlah rancangan yang membawa kecelakaan, namun yang menhasilkan kebaikan, kebahagiaan dan damai sejahtera.
Apapun persoalan dan masalah yang anda hadapi hari ini, jangan sampai melemahkan semangat dan iman anda kepada Allah. Jangan pula mencari-cari kesalahan orang lain sebagai ‘kambing hitam’ atas peristiwa yang sedang kita alami. Tunggu dan lihatlah bagaimana Tuhan menggenapi rencanaNya yang ajaib atas hidup saudara dan saya.
Masalahnya bukan pada Allah yang terlalu lambat menggenapi rencanaNya, namun pada kita yang selalu tidak menyadari kebahagiaan dibalik suatu peristiwa
JATI DIRI
Nats: Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya
menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-
Nya (Yohanes 1:12)
Gajah betina itu tak kenal identitasnya. Sejak kecil ia dipelihara
dan hidup di antara para tupai. Maka ia menganggap dirinya tergolong
bangsa tupai. Ia bertingkah polah seperti tupai. Ia belum kenal jati
dirinya, sampai ia berjumpa Manny, si gajah jantan. Dengan berbagai
cara, tahap demi tahap, Manny berusaha menunjukkan keserupaan di
antara mereka untuk menyadarkannya bahwa ia adalah gajah, bukan
tupai. Begitulah cerita ringkas film animasi Ice Age 2. Pesannya
jelas: kita perlu sadar diri siapa kita dan belajar berperilaku
sesuai jati diri itu.
Kalau burung mengira dirinya ayam, ia tidak akan terbang tetapi
hanya melompat-lompat. Kalau seorang kristiani tidak sadar dirinya
anak Allah, jelas yang dilakukannya tidak sesuai standar anak-anak
Allah. Sejak menerima Kristus, kita dilahirkan kembali; diciptakan
baru; diangkat menjadi "anak-anak Allah"; dan "benih ilahi" ada di
dalam kita (ayat 9). Lewat pergaulan tahap demi tahap dengan Dia,
selayaknya perilaku kita mengikuti standar keserupaan dengan Yesus.
Yohanes tak henti-hentinya menulis tentang kebenaran ini. Mengapa?
Sebab target gempuran Iblis adalah membuat orang-orang kristiani
"lupa" jati dirinya. Bagaimana bisa? Lewat tantangan dan cobaan
hidup yang beragam, kita bisa dibuat memiliki gambar diri yang
buruk: anak bodoh; pembawa celaka; si nasib sial; orang gagal;
pecundang; wanita yang tak layak dicintai; pria miskin; si tua yang
tak berguna; si pembuat dosa yang tak terampuni. Lalu tanpa sadar,
orang akan berperilaku seperti gambar diri itu. Stop! Jangan
tergiring ke arah itu! Kita adalah anak-anak Allah. Berjuang dan
berperilakulah di atas landasan jati diri yang benar! _PAD
PERUBAHAN HIDUP DIMULAI DARI PERUBAHAN GAMBAR DIRI
KE ARAH YANG SESUAI DENGAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN
Diambil dari Renungan Harian 6 Januari 2010
menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-
Nya (Yohanes 1:12)
Gajah betina itu tak kenal identitasnya. Sejak kecil ia dipelihara
dan hidup di antara para tupai. Maka ia menganggap dirinya tergolong
bangsa tupai. Ia bertingkah polah seperti tupai. Ia belum kenal jati
dirinya, sampai ia berjumpa Manny, si gajah jantan. Dengan berbagai
cara, tahap demi tahap, Manny berusaha menunjukkan keserupaan di
antara mereka untuk menyadarkannya bahwa ia adalah gajah, bukan
tupai. Begitulah cerita ringkas film animasi Ice Age 2. Pesannya
jelas: kita perlu sadar diri siapa kita dan belajar berperilaku
sesuai jati diri itu.
Kalau burung mengira dirinya ayam, ia tidak akan terbang tetapi
hanya melompat-lompat. Kalau seorang kristiani tidak sadar dirinya
anak Allah, jelas yang dilakukannya tidak sesuai standar anak-anak
Allah. Sejak menerima Kristus, kita dilahirkan kembali; diciptakan
baru; diangkat menjadi "anak-anak Allah"; dan "benih ilahi" ada di
dalam kita (ayat 9). Lewat pergaulan tahap demi tahap dengan Dia,
selayaknya perilaku kita mengikuti standar keserupaan dengan Yesus.
Yohanes tak henti-hentinya menulis tentang kebenaran ini. Mengapa?
Sebab target gempuran Iblis adalah membuat orang-orang kristiani
"lupa" jati dirinya. Bagaimana bisa? Lewat tantangan dan cobaan
hidup yang beragam, kita bisa dibuat memiliki gambar diri yang
buruk: anak bodoh; pembawa celaka; si nasib sial; orang gagal;
pecundang; wanita yang tak layak dicintai; pria miskin; si tua yang
tak berguna; si pembuat dosa yang tak terampuni. Lalu tanpa sadar,
orang akan berperilaku seperti gambar diri itu. Stop! Jangan
tergiring ke arah itu! Kita adalah anak-anak Allah. Berjuang dan
berperilakulah di atas landasan jati diri yang benar! _PAD
PERUBAHAN HIDUP DIMULAI DARI PERUBAHAN GAMBAR DIRI
KE ARAH YANG SESUAI DENGAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN
Diambil dari Renungan Harian 6 Januari 2010
Menerima = Kehilangan
Adalah membahagiakan kalau yang kita harapkan terjadi. Adalah penuh sukacita kalau yang kita inginkan terwujud. Tetapi ingatlah, saat kita mendapatkan sesuatu biasanya ada sesuatu yang lain hilang. Setiap kita mendapatkan sesuatu selalu ada yang dikorbankan. Lihat saja, saat kita bekerja keras untuk mendapatkan uang biasanya waktu untuk keluarga, waktu istirahat, dan lainnya akan hilang. Saat kita mendapatkan pekerjaan baru, kita harus kehilangan rekan-rekan kerja, situasi yang lama, kenyamanan yang sudah ada dan lain-lain. Apabila kita menyadari hal ini, maka kita akan sungguh-sungguh menyadari betapa setiap detik dari hidup kita tidak ada yang sia-sia. Setiap detik dari hidup kita memiliki arti yang teramat mendalam!
Selasa, 05 Januari 2010
Tertawa itu Sehat
Amsal 17: 22
17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang
Tertawa mampu meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Suatu penelitian menyebutkan bahwa suara tawa dapat membuat tubuh kita lebih kebal dari penyakit hingga 40%. Tertawa membuat tubuh kita menjadi lebih aktif menghadang infeksi dan kuman. Tertawa juga mempermudah pernafasan. Udara yang kotor akan lebih mudah keluar saat kita tertawa untuk digantikan dengan udara segar yang dibutuhkan tubuh.
Salomo menjelaskan bahwa hati yang gembira adalah obat dan namun keputusasaan akan mengeringkan ‘tulang’ jasmani maupun rohani dari seseorang. Ia mau melihat kebahagiaan terpancar dari wajah orang di sekitarnya. Semua orang membutuhkan tawa sebagai salah satu cara berelaksasi dari kepenatan sehari-hari, sehingga kita terhindar dari stress yang mendalam.
Tertawa itu menyehatkan. Bukan hanya bagi tubuh jasmani kita, namun juga bagi hati. Hati yang gembira akan meningkatkan semangat. Semangat bekerja, mengabdi, berkarya bagi Tuhan dan sesama. Kemampuan untuk tertawa, terlebih menertawakan diri sendiri, termasuk salah satu tanda kedewasaan. Di satu sisi, tertawa memperlihatkan tertawa memperlihatkan kesadaran dan penerimaan; bahwa kita ini adalah makhluk berdosa yang adakalanya bertindah ceroboh; di sisi lain tertawa menyiratkan pengakuan bahwa hanya dengan pertolongan Allah kita bisa mengatasi kebodohan tersebut. Sudahkan anda tertawa hari ini?
Tawa sukacita datangnya dari hati yang gembira
17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang
Tertawa mampu meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Suatu penelitian menyebutkan bahwa suara tawa dapat membuat tubuh kita lebih kebal dari penyakit hingga 40%. Tertawa membuat tubuh kita menjadi lebih aktif menghadang infeksi dan kuman. Tertawa juga mempermudah pernafasan. Udara yang kotor akan lebih mudah keluar saat kita tertawa untuk digantikan dengan udara segar yang dibutuhkan tubuh.
Salomo menjelaskan bahwa hati yang gembira adalah obat dan namun keputusasaan akan mengeringkan ‘tulang’ jasmani maupun rohani dari seseorang. Ia mau melihat kebahagiaan terpancar dari wajah orang di sekitarnya. Semua orang membutuhkan tawa sebagai salah satu cara berelaksasi dari kepenatan sehari-hari, sehingga kita terhindar dari stress yang mendalam.
Tertawa itu menyehatkan. Bukan hanya bagi tubuh jasmani kita, namun juga bagi hati. Hati yang gembira akan meningkatkan semangat. Semangat bekerja, mengabdi, berkarya bagi Tuhan dan sesama. Kemampuan untuk tertawa, terlebih menertawakan diri sendiri, termasuk salah satu tanda kedewasaan. Di satu sisi, tertawa memperlihatkan tertawa memperlihatkan kesadaran dan penerimaan; bahwa kita ini adalah makhluk berdosa yang adakalanya bertindah ceroboh; di sisi lain tertawa menyiratkan pengakuan bahwa hanya dengan pertolongan Allah kita bisa mengatasi kebodohan tersebut. Sudahkan anda tertawa hari ini?
Tawa sukacita datangnya dari hati yang gembira
Be a Winner
(Bilangan 13: 1-33)
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! (1:30)
Be a winner atau menjadi seorang pemenang memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dilewati. Apabila kita terpaku pada tantangan itu, akan sulit bagi kita menjadi seorang pemenang. Pemenang bukanlah masalah kelahiran tetapi masalah perjuangan, usaha keras untuk mencapai tujuan tertentu.
Bangsa Israel sudah membuktikannya, saat itu mereka ada di padang gurun Paran, suatu daerah yang gersang dan tandus. Sebab itu, Musa mengirimkan pengintai-pengintai untuk melihat tanah yang telah dijanjikan Allah bagi mereka. Duabelas orang pengintai dari kedua belas suku Israel dipilih untuk melaksanakan tugas itu. Mereka melihat bahwa tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah tanah yang teramat subur, makmur atau gemah ripah loh jinawi, tetapi ada satu hal yang mengganggu mereka, tanah itu didiami oleh orang-orang perkasa keturunan raksasa yang bernama Enak. Hal ini membuat sepuluh dari mereka gemetar dan takut, sehingga menghasut bangsa itu supaya tidak maju merebut tanah perjanjian. Mereka lupa bahwa Tuhan Allah sudah menjanjikan tanah itu bagi mereka dan Ia tidak akan pernah lupa akan janjinya.
Dua orang dari pengintai itu, yaitu Yosua dan Kaleb memiliki pemikiran yang lain. Ia percaya bahwa Allah akan menyertai mereka dan mereka harus maju dan menduduki negeri itu. Ia berteriak diantara sekian banyak bangsa itu untuk mengingatkan kembali janji Tuhan Allah bagi mereka. Ia tidak terpancing oleh suara mayoritas yang berusaha menggagalkan rencana Allah. Ia adalah seorang pemenang.
Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berpikir sebagai pemenang dan bertindak sebagai pemenang. Seorang pemenang adalah orang yang berani berpikir maju dan menghadapi tantangan tanpa rasa takut dan gemetar dengan pertolongan Tuhan Allah. Arahkan langkah kita menuju ke ‘tanah perjanjian’ dengan tetap berpegang teguh pada pertolongan Roh Kudus. Be a winner. WEC
(Menjadi pemenang merupakan pilihan hidup yang diwujudkan dalam pola berpikir dan tindakan sebagai seorang pemenang)
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya! (1:30)
Be a winner atau menjadi seorang pemenang memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dilewati. Apabila kita terpaku pada tantangan itu, akan sulit bagi kita menjadi seorang pemenang. Pemenang bukanlah masalah kelahiran tetapi masalah perjuangan, usaha keras untuk mencapai tujuan tertentu.
Bangsa Israel sudah membuktikannya, saat itu mereka ada di padang gurun Paran, suatu daerah yang gersang dan tandus. Sebab itu, Musa mengirimkan pengintai-pengintai untuk melihat tanah yang telah dijanjikan Allah bagi mereka. Duabelas orang pengintai dari kedua belas suku Israel dipilih untuk melaksanakan tugas itu. Mereka melihat bahwa tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka adalah tanah yang teramat subur, makmur atau gemah ripah loh jinawi, tetapi ada satu hal yang mengganggu mereka, tanah itu didiami oleh orang-orang perkasa keturunan raksasa yang bernama Enak. Hal ini membuat sepuluh dari mereka gemetar dan takut, sehingga menghasut bangsa itu supaya tidak maju merebut tanah perjanjian. Mereka lupa bahwa Tuhan Allah sudah menjanjikan tanah itu bagi mereka dan Ia tidak akan pernah lupa akan janjinya.
Dua orang dari pengintai itu, yaitu Yosua dan Kaleb memiliki pemikiran yang lain. Ia percaya bahwa Allah akan menyertai mereka dan mereka harus maju dan menduduki negeri itu. Ia berteriak diantara sekian banyak bangsa itu untuk mengingatkan kembali janji Tuhan Allah bagi mereka. Ia tidak terpancing oleh suara mayoritas yang berusaha menggagalkan rencana Allah. Ia adalah seorang pemenang.
Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita berpikir sebagai pemenang dan bertindak sebagai pemenang. Seorang pemenang adalah orang yang berani berpikir maju dan menghadapi tantangan tanpa rasa takut dan gemetar dengan pertolongan Tuhan Allah. Arahkan langkah kita menuju ke ‘tanah perjanjian’ dengan tetap berpegang teguh pada pertolongan Roh Kudus. Be a winner. WEC
(Menjadi pemenang merupakan pilihan hidup yang diwujudkan dalam pola berpikir dan tindakan sebagai seorang pemenang)
Pengampunan
Matius 18: 21-35
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (18:21-22)
Tanggal 17 Juli 2009 Hotel J. W. Marriot dan Ritz-Charlton di Mega Kuningan, Jakarta dihantam bom bunuh diri. Paling tidak ada sembilan orang tewas dalam peristiwa itu. Salah satunya adalah Evert Mokodompis. Ada satu hal yang menyentuh hati saya, saat penguburan, ayah korban diwawancarai sebuah stasiun tv, dengan pertanyaan hukuman apa yang pantas bagi orang-orang dibalik peristiwa ini. Jawabannya sangat indah, “saya serahkan kepada hukum yang berlaku, tetapi kami sudah mengampuni mereka dan memberkati mereka. Sebab kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.” Satu kalimat yang berasal dari firman Tuhan dalam Injil Matius 5: 39 dan 44.
Mengampuni adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dikatakan, namun perlu pengorbanan saat kita berkomitmen untuk melaksanakannya. Sebab, mengampuni berarti menghapuskan kesalahan yang dibuat orang lain, meskipun itu sangat menyakitkan. Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus, berapa kali aku harus mengampuni? Tujuh kali? Mengapa Petrus berkata tujuh kali, sebab dalam tradisi Yahudi saat itu mengampuni orang biasanya hanya sampai tiga kali. Jawaban Yesus sangat mengagetkan, sebab ia tidak hanya harus mengampuni tujuh kail, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali untuk satu orang saja. Ini mendobrak kebiasaan dan kemauan kita. Namun, disinilah esensi dari keKristenan, yaitu hendaklah kita saling mengasihi, dan mengasihi tidak ada dampaknya tanpa kita mengampuni.
Umat percaya seringkali gamang dan sulit untuk mengampuni, sebab melihat kesalahan yang sudah diperbuat orang terhadap kita. Mulai saat ini, pandanglah teladan Yesus Kristus yang rela masuk dalam sejarah dunia, menjadi manusia, bahkan mati dalam kesengsaraan demi kasihNya bagi kita, manusia berdosa. Dia rela mengampuni kita, demikian pula kita juga harus rela mengampuni kesalahan sesama kita. WEC
(Pengampunan adalah keniscayaan bagi umat yang mengasihi Tuhan)
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (18:21-22)
Tanggal 17 Juli 2009 Hotel J. W. Marriot dan Ritz-Charlton di Mega Kuningan, Jakarta dihantam bom bunuh diri. Paling tidak ada sembilan orang tewas dalam peristiwa itu. Salah satunya adalah Evert Mokodompis. Ada satu hal yang menyentuh hati saya, saat penguburan, ayah korban diwawancarai sebuah stasiun tv, dengan pertanyaan hukuman apa yang pantas bagi orang-orang dibalik peristiwa ini. Jawabannya sangat indah, “saya serahkan kepada hukum yang berlaku, tetapi kami sudah mengampuni mereka dan memberkati mereka. Sebab kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.” Satu kalimat yang berasal dari firman Tuhan dalam Injil Matius 5: 39 dan 44.
Mengampuni adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dikatakan, namun perlu pengorbanan saat kita berkomitmen untuk melaksanakannya. Sebab, mengampuni berarti menghapuskan kesalahan yang dibuat orang lain, meskipun itu sangat menyakitkan. Petrus bertanya kepada Tuhan Yesus, berapa kali aku harus mengampuni? Tujuh kali? Mengapa Petrus berkata tujuh kali, sebab dalam tradisi Yahudi saat itu mengampuni orang biasanya hanya sampai tiga kali. Jawaban Yesus sangat mengagetkan, sebab ia tidak hanya harus mengampuni tujuh kail, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali untuk satu orang saja. Ini mendobrak kebiasaan dan kemauan kita. Namun, disinilah esensi dari keKristenan, yaitu hendaklah kita saling mengasihi, dan mengasihi tidak ada dampaknya tanpa kita mengampuni.
Umat percaya seringkali gamang dan sulit untuk mengampuni, sebab melihat kesalahan yang sudah diperbuat orang terhadap kita. Mulai saat ini, pandanglah teladan Yesus Kristus yang rela masuk dalam sejarah dunia, menjadi manusia, bahkan mati dalam kesengsaraan demi kasihNya bagi kita, manusia berdosa. Dia rela mengampuni kita, demikian pula kita juga harus rela mengampuni kesalahan sesama kita. WEC
(Pengampunan adalah keniscayaan bagi umat yang mengasihi Tuhan)
Langganan:
Postingan (Atom)